Minggu, 02 Juli 2017

PROSEDUR PELAYANAN ADMINISTRASI DI UNIT RAWAT JALAN


Prosedur pelayanan rawat jalan adalah sebagai berikut :

1. Pasien datang di bagian admisi dan diterima oleh petugas admisi;

2. Petugas menanyakan apakah pasien tersebut merupakan pasien baru (pasien yang baru pertama kali berkunjung, tidak membawa kartu berobat dan kehilangan kartu) atau pasien lama,

3. Jika pasien tersebut adalah pasien baru, maka petugas pendaftaran mendaftar pasien sbb:

· Petugas pendaftaran melengkapi formulir rekam medis penerimaan pasien baru dengan mewawancarai pasien tersebut

· Petugas pendaftaran mencetak KIB (Kartu Identitas Berobat) dan IUP (Index Utama Pasien);

· Petugas pendaftaran menyerahkan KIB kepada pasien;

· Petugas pendaftaran membawa formulir rekam medis pasien kepoli / unit pelayanan yang dituju;

· Di Unit Pelayanan / Poliklinik:

· Petugas di unit pelayanan memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien;

· Apakah pasien perlu dirujuk ke unit pelayanan penunjang yang lain?

· Jika Ya petugas, maka petugas membawa formulir rujukan ke unit yang dituju;

· Jika tidak, maka pasien / keluarganya dipersilahkan mengambil obat di bagian farmasi;

· Kemudian petugas mempersilahkan pasien menyelesaikan administrasi pembayaran di kasir.

4. Untuk pasien lama, maka petugas pendaftaran mendaftar pasien sebagai berikut:

· Petugas menerima dan meneliti kartu identitas berobat pasien;

· Petugas pendaftaran mendaftar pasien sesuai dengan pelayanan yang akan dituju dengan mewawancarai pasien tersebut;

· Petugas membuat tracer berdasarkan KIB pasien;

· Petugas mengambil berkas rekam medis pasien ke Filing sesuai dengan tracer tersebut;

5. Apabila berkas rekam medis pasien sudah terkumpul?

· Jika berkas belum terkumpul, maka petugas menunggu sampai berkas terkumpul banyak di bagian admisi

· Jika berkas sudah terkumpul, maka petugas mendistribusikan semua berkas rekam medis pasien ke poliklinik yang dituju;

· Di Unit Pelayanan / Poliklinik:

· Petugas di unit pelayanan memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien

· Apakah pasien perlu dirujuk ke unit pelayanan penunjang yang lain?

· Jika Ya, maka petugas membawa formulir ke unit yang dituju;

· Jika tidak maka pasien dipersilahkan mengambil obat di bagian farmasi;

· Petugas mempersilahkan pasien menyelesaikan administrasi pembayaran di kasir;

· Petugas mempersilahkan pasien pulang;








Kamis, 15 Juni 2017

PROSEDUR PELAYANAN FARMASI



1. Pengertian

Pelayanan Farmasi Rumah Sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.



2. Tujuan

a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan     gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia

b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan professional beerdasarkan prosedur kefarmasian dan etik         profesi

c. Melaksanakan KIE ( Komunikasi Informasi dan Edukasi )mengenai obat

d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang beraku

e. Melakukan dan member pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan

f. Mengawasi dan member pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan

g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan meningkatan metoda



3. Standar Pelayanan Farmasi

a. Administrasi dan Pengelolaan

Adanya bagan organisasi yang menggambarkan uraian tugas, fungsi, wewenang dan             tanggungjawab serta hubungan koordinasi didalam maupun diluar pelayanan farmasi yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit. Direvisi kembali setiap 3 tahun.

b. Staf dan Pimpinan

Pelayanan farmasi diselenggarakan dan dikelola oleh apoteker yang mempunyai pengalaman minimal 2 tahun di bagian farmasi rumah sakit. Apoteker telah terdaftar di Depkes dan mempunyai surat ijin kerja.

c. Fasilitas dan Peralatan

Harus tersedia ruangan,peralatan dan fasilitas lain yang dapat mendukung administrasi, profesionalisme dan fungsi teknik pelayanan farmasi, sehingga menjamin terselenggaranya pelayanan farmasi yang fungsional, professional dan etis

d. Kebijakan dan prosedur

Semua kebijakan dan prosedur yang ada harus tertulis dan dicantumkan tanggal dikeluarkannya peraturan tersebut. Peraturan dan prosedur yang ada harus mencerminkan standar pelayanan farmasi mutakhir yang sesuai dengan peraturan dan tujuan dari pada pelayanan farmasi itu sendiri.



4. Indikator

a. Waktu tunggu pelayanan :

     - Obat jadi ≤ 30 menit

     - Racikan ≤ 60 menit

b. Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat : 100 %

c. Kepuasan pelanggan : ≥ 80 %

d. Penulisan resep sesuai formularium : 100 %



5. Prosedur

I. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Pengelolaan Perbekalan Farmasi merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.
Tujuan :
1. Mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efesien
2. Menerapkan farmako ekonomi dalam pelayanan
3. Meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga farmasi
4. Mewujudkan Sistem Informasi Manajemen berdaya guna dan tepat guna
5. Melaksanakan pengendalian mutu pelayanan

a. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat.
Penentuan seleksi obat merupakan peran aktif apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi untuk menetapkan kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi pembelian.

b. Perencanaan
Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain Konsumsi, Epidemiologi, Kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Pedoman Perencanaan
1. DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi Rumah Sakit, Ketentuan setempat yang berlaku.
2. Data catatan medik
3. Anggaran yang tersedia
4. Penetapan prioritas
5. Siklus penyakit
6. Sisa persediaan
7. Data pemakaian periode yang lalu
8. Rencana pengembangan

c. Pengadaan
Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui, melalui :
1. Pembelian :
a.Secara tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi)
b.Secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar farmasi/rekanan
2. Produksi/pembuatan sediaan farmasi:
a.Produksi Steril
b.Produksi Non Steril
3. Sumbangan/droping/hibah

d. Produksi
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Kriteria obat yang diproduksi :
1. Sediaan farmasi dengan formula khusus
2. Sediaan farmasi dengan harga murah
3. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil
4. Sediaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran
5. Sediaan farmasi untuk penelitian
6. Sediaan nutrisi parenteral
7. Rekonstruksi sediaan obat kanker

e. Penerimaan
Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan.
Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi:
1. Pabrik harus mempunyai Sertifikat Analisa
2. Barang harus bersumber dari distributor utama
3. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS)
4. Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of origin
5. Expire date minimal 2 tahun

f. Penyimpanan
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan:
1. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya
2. Dibedakan menurut suhunya, kestabilannya
3. Mudah tidaknya meledak/terbakar
4. Tahan/tidaknya terhadap cahaya
disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan

g.Pendistribusian
Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang pelayanan medis.
Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan :
1. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
2. Metode sentralisasi atau desentralisasi
3. Sistem floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi
a. Pendistribusian Perbekalan Farmasi untuk Pasien Rawat Inap
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pasien rawat inap di rumah sakit, yang diselenggarakan secara sentralisasi dan atau desentralisasi dengan sistem persediaan lengkap di ruangan, sistem resep perorangan, sistem unit dosis dan sistem kombinasi oleh Satelit Farmasi.
b. Pendistribusian Perbekalan Farmasi untuk Pasien Rawat Jalan
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pasien rawat jalan di rumah sakit, yang diselenggarakan secara sentralisasi dan atau desentralisasi dengan sistem resep perorangan oleh Apotik Rumah Sakit.
c. Pendistribusian Perbekalan Farmasi di luar Jam Kerja
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pasien di luar jam kerja yang diselenggarakan oleh:
1. Apotik rumah sakit/satelit farmasi yang dibuka 24 jam
2. Ruang rawat yang menyediakan perbekalan farmasi emergensi Sistem pelayanan distribusi :
a. Sistem persediaan lengkap di ruangan
• Pendistribusian perbekalan farmasi untuk persediaan di ruang rawat merupakan tanggung jawab perawat ruangan.
• Setiap ruang rawat harus mempunyai penanggung jawab obat.
• Perbekalan yang disimpan tidak dalam jumlah besar dan dapat dikontrol secara berkala oleh petugas farmasi.
b. Sistem resep perorangan
Pendistribusian perbekalan farmasi resep perorangan/pasien rawat jalan dan rawat inap melalui Instalasi Farmasi.
c. Sistem unit dosis
Pendistribusian obat-obatan melalui resep perorangan yang disiapkan, diberikan/digunakan dan dibayar dalam unit dosis tunggal atau ganda, yang berisi obat dalam jumlah yang telah ditetapkan atau jumlah yang cukup untuk penggunaan satu kali dosis biasa.
Kegiatan pelayanan distribusi diselenggarakan pada:
1. Apotik rumah sakit dengan sistem resep perorangan
2. Satelit farmasi dengan sistem dosis unit
3. Ruang perawat dengan sistem persediaan di ruangan

II. Pelayanan Kefarmasian Dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan
Adalah pendekatan profesional yang bertanggung jawab dalam menjamin penggunaan obat dan alat kesehatan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau oleh pasien melalui penerapan pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan perilaku apoteker serta bekerja sama dengan pasien dan profesi kesehatan lainnya.
Tujuan :
1. Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan pelayanan farmasi di rumah sakit
2. Memberikan pelayanan farmasi yang dapat menjamin efektifitas, keamanan dan efisiensi penggunaan obat
3. Meningkatkan kerjasama dengan pasien dan profesi kesehatan lain yang terkait dalam pelayanan farmasi
4. Melaksanakan kebijakan obat di rumah sakit dalam rangka meningkatkan penggunaan obat secara rasional
Kegiatan :

a. Pengkajian Resep
Kegiatan dalam pelayanan kefarmasian yang dimulai dari seleksi persyaratan administarasi, persyaratan farmasi dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Persyaratan administrasi meliputi :
1. Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
2. Nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter
3. Tanggal resep
4. Ruangan/unit asal resep
5. Persyaratan farmasi meliputi :
6. Bentuk dan kekuatan sediaan
7. Dosis dan Jumlah obat
8. Stabilitas dan ketersediaan
9. Aturan, cara dan tehnik penggunaan
Persyaratan klinis meliputi :
1. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat
2. Duplikasi pengobatan
3. Alergi, interaksi dan efek samping obat
4. Kontra indikasi
5. Efek aditif

b. Dispensing
Merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap validasi, interpretasi, menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, penyerahan obat dengan pemberian informasi obat yang memadai disertai sistem dokumentasi.
Tujuan
1. Mendapatkan dosis yang tepat dan aman
2. Menyediakan nutrisi bagi penderita yang tidak dapat menerima makanan secara oral atau emperal
3. Menyediakan obat kanker secara efektif, efisien dan bermutu.
4. Menurunkan total biaya obat
Dispensing dibedakan berdasarkan atas sifat sediaannya :
a. Dispensing sediaan farmasi khusus
1. Dispensing sediaan farmasi parenteral nutrisi Merupakan kegiatan pencampuran nutrisi parenteral yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih secara aseptis sesuai kebutuhan pasien dengan menjaga stabilitas sediaan, formula standar dan kepatuhan terhadap prosedur yang menyertai.
Kegiatan :
a. Mencampur sediaan karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral untuk kebutuhan perorangan.
b. Mengemas ke dalam kantong khusus untuk nutrisi Faktor yang perlu diperhatikan :
c. Tim yang terdiri dari dokter, Apoteker, perawat, ahli gizi.
d. Sarana dan prasarana
e. Ruangan khusus
f. Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet
g. Kantong khusus untuk nutrisi parenteral
2. Dispensing sediaan farmasi pencampuran obat steril Melakukan pencampuran obat steril sesuai kebutuhan pasien yang menjamin kompatibilitas, dan stabilitas obat maupun wadah sesuai dengan dosis yang ditetapkan.
Kegiatan :
a. Mencampur sediaan intravena kedalam cairan infus
b. Melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang sesuai
c. Mengemas menjadi sediaan siap pakai
Faktor yang perlu diperhatikan :
a. Ruangan khusus
b. Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet
c. Hepa Filter
b. Dispensing Sediaan Farmasi Berbahaya
Merupakan penanganan obat kanker secara aseptis dalam kemasan siap pakai sesuai kebutuhan pasien oleh tenaga farmasi yang terlatih dengan pengendalian pada keamanan terhadap lingkungan, petugas maupun sediaan obatnya dari efek toksik dan kontaminasi, dengan menggunakan alat pelindung diri, mengamankan pada saat pencampuran, distribusi, maupun proses pemberian kepada pasien sampai pembuangan limbahnya.
Secara operasional dalam mempersiapkan dan melakukan harus sesuai prosedur yang ditetapkan dengan alat pelindung diri yang memadai, sehingga kecelakaan terkendali.
Kegiatan :
1. Melakukan perhitungan dosis secara akurat
2. Melarutkan sediaan obat kanker dengan pelarut yang sesuai
3. Mencampur sediaan obat kanker sesuai dengan protocol pengobatan
4. Mengemas dalam kemasan tertentu
5. Membuang limbah sesuai prosedur yang berlaku Faktor yang perlu diperhatikan :
6. Cara pemberian obat kanker
7. Ruangan khusus yang dirancang dengan kondisi yang sesuai
8. Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet
9. Hepa Filter
10. Pakaian khusus
11. Sumber Daya Manusia yang terlatih

c. Pemantauan Dan Pelaporan Efek Samping Obat
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi.
Tujuan :
1. Menemukan ESO (Efek Samping Obat) sedini mungkin terutama yang berat, tidak dikenal, frekuensinya jarang.
2. Menentukan frekuensi dan insidensi Efek Samping Obat yang sudah dikenal sekali, yang baru saja ditemukan.
3. Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi timbulnya Efek Samping Obat atau mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya Efek Samping Obat.
Kegiatan :
1. Menganalisa laporan Efek Samping Obat
2. Mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami Efek Samping Obat
3. Mengisi formulir Efek Samping Obat
4. Melaporkan ke Panitia Efek Samping Obat Nasional Faktor yang perlu diperhatikan :
5. Kerjasama dengan Panitia Farmasi dan Terapi dan ruang rawat
6. Ketersediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat

d. Pelayanan Informasi Obat
Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias dan terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.
Tujuan
1. Menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan dilingkungan rumah sakit.
2. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan obat, terutama bagi Panitia/Komite
Farmasi dan Terapi.
1. Meningkatkan profesionalisme apoteker.
2. Menunjang terapi obat yang rasional.
Kegiatan :
1. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara aktif dan pasif.
2. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka.
3. Membuat buletin, leaflet, label obat.
4. Menyediakan informasi bagi Komite/Panitia Farmasi dan Terapi sehubungan dengan penyusunan Formularium Rumah Sakit.
5. Bersama dengan PKMRS melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap.
6. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga farmasi dan tenaga kesehatan lainnya.
7. Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan :
1. Sumber informasi obat
2. Tempat
3. Tenaga
4. Perlengkapan

e. Konseling
Merupakan suatu proses yang sistematik untuk mengidentifikasi dan penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan obat pasien rawat jalan dan pasien rawat inap.
Tujuan :
Memberikan pemahaman yang benar mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan mengenai nama obat, tujuan pengobatan, jadwal pengobatan, cara menggunakan obat, lama penggunaan obat, efek samping obat, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan obat dan penggunaan obat-obat lain.
Kegiatan :
1. Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien.
2. Menanyakan hal-hal yang menyangkut obat yang dikatakan oleh dokter kepada pasien dengan metode open-ended question
3. Apa yang dikatakan dokter mengenai obat
4. Bagaimana cara pemakaian
5. Efek yang diharapkan dari obat tersebut.
6. Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat
7. Verifikasi akhir : mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan obat, untuk mengoptimalkan tujuan terapi.
Faktor yang perlu diperhatikan :
1. Kriteria pasien :
a. Pasien rujukan dokter
b. Pasien dengan penyakit kronis
c. Pasien dengan obat yang berindeks terapetik sempit dan polifarmasi
d. Pasien geriatrik.
e. Pasien pediatrik.
f. Pasien pulang sesuai dengan kriteria diatas
2. Sarana dan Prasarana :
a. Ruangan khusus
b. Kartu pasien/catatan konseling

f. Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah
Melakukan pemeriksaan kadar beberapa obat tertentu atas permintaan dari dokter yang merawat karena indeks terapi yang sempit.
Tujuan :
1. Mengetahui kadar obat dalam darah
2. Memberikan rekomendasi kepada dokter yang merawat
Kegiatan :
1. Memisahkan serum dan plasma darah
2. Memeriksa kadar obat yang terdapat dalam plasma dengan menggunakan alat TDM
3. Membuat rekomendasi kepada dokter berdasarkan hasil pemeriksaan
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan :
1. Alat Therapeutic Drug Monitoring
2. Reagen sesuai obat yang diperiksa

g. Ronde/Visite Pasien
Merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya
Tujuan :
1. Pemilihan obat
2. Menerapkan secara langsung pengetahuan farmakologi terapetik
3. Menilai kemajuan pasien.
4. Bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain.
Kegiatan :
1. Apoteker harus memperkenalkan diri dan menerangkan tujuan dari kunjungan tersebut kepada pasien.
2. Untuk pasien baru dirawat Apoteker harus menanyakan terapi obat terdahulu dan memperkirakan masalah yang mungkin terjadi.
3. Apoteker memberikan keterangan pada formulir resep untuk menjamin penggunaan obat yang benar.
4. Melakukan pengkajian terhadap catatan perawat akan berguna untuk pemberian obat.
5. Setelah kunjungan membuat catatan mengenai permasalahan dan penyelesaian masalah dalam satu buku dan buku ini digunakan oleh setiap Apoteker yang berkunjung ke ruang pasien untuk menghindari pengulangan kunjungan.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan :
1. Pengetahuan cara berkomunikasi
2. Memahami teknik edukasi
3. Mencatat perkembangan pasien
Pengkajian Penggunaan Obat
Merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat-obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau oleh pasien.
Tujuan :
1. Mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan obat pada pelayanan kesehatan/dokter tertentu.
2. Membandingkan pola penggunaan obat pada pelayanan kesehatan/dokter satu dengan yang lain.
3. Penilaian berkala atas penggunaan obat spesifik
4. Menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan obat.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan :
1. Indikator peresepan
2. Indikator pelayanan
3. Indikator fasilitas





DAFTAR PUSTAKA

1. Kepmenkes No 1197 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi RS

2. Kepmenkes No 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal RS

3. SK Menkes No 1333 tahun 1999 tentang Standar Pelayanan RS

Kamis, 01 Juni 2017

PELAYANAN REKAM MEDIS

Pengertian Rekam Medis
Menurut PERMENKES No: 269/MENKES/PER/III/2008 yang dimaksud rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain idtentitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, standar minimal rekam medis adalah sebagai berikut:

a. Kelengkapan pengisian rekam medik 24 jam setelah selesai pelayanan harus 100%

b. Kelengkapan Informed Concent setelah mendapatkan informasi yang jelas harus 100%

c. Waktu penyediaan dokumen rekam medik pelayanan rawat jalan kurang dari 10 menit

d. Waktu penyediaan dokumen rekam medik pelayanan rawat inap kurang dari 15 menit

Kegunaan Rekam Medis
a. Patient Care Mangement

Mencatat keadaan penyakit dan pengobatan pada suatu jangka waktu tertentu, komunikasi antar dokter dan pemberi pelayanan kesehatan lain, member informasi kepada pemberi pelayanan kesehatan untuk pelayanan kesehatan berikutnya

b. Quality Review

Untuk mngevaluasi pelayanan yang tepat dan adequate. Rekam Medis yang jelas dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi tenaga medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.

c. Financial Reimbursement

Dijadikan petunjuk dan bahan untuk menetapkan pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan tersebut dapat dipakai sebagai bukti pembiayaan kepada pasien.

d. Legal Affairs

Memberikan data untuk melindungi kepentingan pasien, dokter dan institusi pelayanan kesehatan. Rekam Medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam penyelesaian masalah hokum, disiplin dan etik.

e. Education

Memberikan studi kasus yang actual untuk pendidik profesi kesehatan.

f. Research

Memberikan data dalam mengembangkan pengetahuan medis.

g. Public Health

Sebagai bahan statistic kesehatan, menentukan jumlah penderita penyakit – penyakit tertentu, khususnya untuk mempelajari perkembanagan kesehatan masyarakat dan dapat dijadikan dasar bagi peningkatan kesehatan nasional/dunia.

h. Planning and Marketing

Untuk mengidentifikasi data – data penting untuk menyeleksi dan mempromosikan pelayanan dan fasilitas yang ada

Kelengkapan rekam medis
a. RM harus diisi cukup rinci agar pasien mendapat informasi berkesinambungan, informasi efektif untuk dokter, perawat dan konsulen, dokter lain dapat menilai kualitas pelayanan, dan kualitas dapat dinilai saat itu atau secara retrospektif. RM diisi oleh yang berhak, diberi catatan tanggal, jam dan nama pemeriksa. Pengisian dan perubahan RM harus diketahui, singkatan dan simbol yang dipakai ialah yang diakui oleh komite rekam medis dan bila mungkin, semua laporan asli disimpan dalam RM.

b. Identifikasi RM mencakup nomor, nama lengkap, alamat, jenis kelamin, orang yang terkait dalam pelayanan gawat darurat. Tanda khusus (misalnya alergi) ditulis di halaman depan RM. RM mencantumkan diagnosis sewaktu pasien diterima dokter, RM mencakup riwayat dan perjalanan penyakit, riwayat penyakit keluarga, keadaan sosial dan RM mencakup pemeriksaan fisik secara rinci oleh dokter saat pasien masuk RS. Halaman depan RM meliputi diagnosis dan prosedur tindakan sesuai ICD

c. Ada rencana perawatan dan pengobatan secara tertulis, catatan kemajuan, hasil observasi dan konsultasi dibuat tertulis, dan dokter membuat diagnosis pra bedah sebelum operasi dan laporan operasi setelah pembedahan. RM anestesi meliputi catatan penilaian pra bedah oleh dokter anestesi, obat cara dan dosis, pemantauan tanda vital, terapi cairan, instruksi pasca anestesi, nama dan tanda tangan dokter anestesi

Informed consent
Informed consent atau persetujuan tindakan medis/kedokteran adalah Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat, setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. (Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008)

Fungsi informed consent
a. Promosi dari hak otonomi perorangan;

b. Proteksi dari pasien dan subyek;

c. Mencegah terjadinya penipuan atau paksaan;

d. Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk mengadakan introspeksi terhadap diri sendiri;

e. Promosi dari keputusan-keputusan rasional;

f. Keterlibatan masyarakat (dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu nilai sosial dan mengadakan pengawasan dalam penyelidikan biomedik.


Yang wajib memberikan informasi kepada pasien adalah Dokter atau dokter gigi

Yang berhak mendapatkan informasi adalah pasien yang kompeten yaitu pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang – undangan atau telah/pernah menikah, tidak terganggu kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi secara wajar, tidak mengalami kemunduran perkembangan ( retardasi ) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuat keputusan secara bebas.

Yang tidak berhak mendapatakan informasi adalah anak – anak atau ornag tidak sadar.

Informasi yang harus disampaikan kepada pasien adalah diagnosis dan tata cara tindakan medis/kedokteran, tujuan tindakan medis/kedokteran yang akan dilakukan, alternatif tindakan lain, dan risikonya, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan serta perkiraan biaya

Kelengkapan Informed Consent
a. Berisi pengakuan atau pernyataan oleh pasien atau walinya bahwa : Ia telah diberi informasi oleh dokter, ia telah memahami sepenuhnya informasi tersebut dan ia memberikan persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medis. setelah memperoleh informasi dan memahami informasi tersebut.

b. Materi/isi informasi yang harus disampaikan meliputi : Diagnosis dan tata cara tindakan medis/kedokteran tersebut, tujuan tindakan medis/kedokteran yang akan dilakukan, alternatif tindakan lain, dan risikonya, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan serta perkiraan biaya

c. Berisi tandatangan pasien atau walinya, sedangkan tandatangan dokter yang memberi informasi mestinya tidak perlu mengingat informed consent adalah sebuah pernyataan sepihak dari pasien. Demikian pula tandatangan saksi. Sebagai contoh adalah kwitansi yang merupakan pernyataan sepihak dari seseorang yang telah menerima uang, maka cukup yang bersangkutan yang menandatangani.



Daftar Pustaka

1. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis

2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan      Minimal Rumah Sakit

3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran

Selasa, 16 Mei 2017

Pelayanan Rawat Inap Yang Baik Untuk Pasien Asuransi dan Non Asuransi

 A. Pengertian      
Rawat inap (opname) adalah istilah yang berarti proses perawatan pasien oleh tenaga kesehatan profesional akibat penyakit tertentu, di mana pasien diinapkan di suatu ruangan di rumah sakit. Perawatan rawat inap adalah perawatan pasien yang kondisinya memerlukan rawat inap. Kemajuan dalam pengobatan modern dan munculnya klinik rawat komprehensif memastikan bahwa pasien hanya dirawat di rumah sakit ketika mereka betul-betul sakit, telah mengalami kecelakaan, pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.
Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat   di   rumah   sakit   yang   merupakan   gabungan   dari   beberapa   fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.

 B. Tujuan
 Adapun tujuan pelayanan rawat inap yaitu:
1.  Membantu penderita memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehubungan dengan penyembuhan penyakitnya.
2.   Mengembangkan hubungan kerja sama yang produktif baik antara unit maupun antara profesi.
3.   Menyediakan tempat/ latihan/ praktek bagi siswa perawat.
4.   Memberikan kesempatan kepada tenaga perawat untuk meningkatkan keterampilannya dalam hal keperawatan.
5.   Meningkatkan suasana yang memungkinkan timbul dan berkembangnya gagasan yang kreatif.
6. Mengandalkan evaluasi yang terus menerus mengenai metode keperawatan yang dipergunakan untuk usaha peningkatan
C. Standar Pelayanan Rawat Inap
Standar minimal rawat inap di rumah sakit adalah sebagai berikut:
1.   Pemberian layanan rawat inap adalah Dokter spesialis, dan perawat dengan minimal pendidikan D3.
2.   Penanggungjawab pasien rawat inap  100 % adalah dokter.
3.   Ketersediaan pelayanan rawat inap terdiri dari anak, penyakit dalam, kebidanan, dan bedah.
4.   Jam kunjung dokter spesialis adalah pukul 08.00 – 14.00 setiap hari kerja.
5.    Kejadian infeksi paska operasi  kurang dari 1,5 %.
6.    Kejadian infeksi nosokomial kurang dari 1,5 %.
7.    Kematian pasien lebih dari 48 jam : kurang dari 0,24 %.
8.    Kejadian pulang paksa kurang dari 5 %.
9.    Kepuasan pelanggan lebih dari 90 %.

  D.   Indikator
Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :
1.    BOR ( Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to inpatient bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
        Rumus BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah  hari dalam satu periode)) X 100%
2.    AVLOS ( Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
       AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
       RumusAVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
3.     TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
       RumusTOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien  keluar (hidup +mati)
4.     BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah “...the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
       RumusBTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
5.   NDR (Net Death Rate)
       NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
       RumusNDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati) ) X  1000 ‰
6.   GDR (Gross Death Rate)
      GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar.
      RumusGDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati))  X 1000 ‰

   E.   Prosedur Pasien Non Asuransi
1.   Dokter menganjurkan pasien untuk rawat inap.
2. Atas persetujuan pasien/keluarga/penanggungjawab pasien, perawat IGD/POLI memberitahu Receptionist bahwa pasien akan dirawat inap.
3.   Perawat mengarahkan keluarga / penanggungjawab pasien untuk mendaftarkan pasien rawat inap ke Receptionist.
4.  Untuk pasien yang masuk melalui IGD, Receptionist menanyakan Kartu Berobat pasien (untuk pasien lama) atau mencatat data / identitas pasien  dengan lengkap (untuk pasien baru).
4.1.    Receptionist menawarkan tarif jasa Rawat Inap secara jelas kepada pasien.         
4.2.    Apabila sudah ada kesepakatan dari keluarga / penanggungjawab pasien, maka Receptionist memberikan form “Surat Pernyataan Pembayaran” kepada keluarga / penanggung-jawab pasien untuk diisi dan ditanda tangani
4.3.    Receptionist meminta jaminan rawat inap kepada keluarga / penanggungjawab pasien berupa KTP/SIM atau tanda pengenal lainnya
Setelah form “Surat Pernyataan Pembayaran“ diisi dan ditanda tangani oleh pasien, berikan form tersebut ke bagian Rekam Medis untuk dicarikan berkas Status Pasien Rawat Inap sesuai dengan Nomor Rekam Medik  dan selanjutnya Status Pasien Rawat Inap diantarkan oleh petugas Rekam Medis ke IGD/POLI yang dituju.

   F.   Prosedur Pasien Asuransi
1.   Dokter menganjurkan pasien untuk rawat inap.
2. Atas persetujuan pasien/keluarga/penanggungjawab pasien, perawat IGD/POLI memberitahu receptionist bahwa pasien akan dirawat inap.
3.   Perawat mengarahkan keluarga / penanggungjawab pasien untuk mendaftarkan pasien rawat inap ke receptionist.
4.  Untuk pasien yang masuk melalui IGD, receptionist menanyakan Kartu Berobat pasien (untuk pasien lama) atau mencatat data / identitas pasien  dengan lengkap (untuk pasien baru).
5.   Pasien asuransi
5.1.    Menanyakan kepemilikan asuransi kesehatan yang dimiliki pasien
5.2.  Bila pasien masuk pada jam kerja, minta pasien untuk mengambil jaminan yang dikeluarkan oleh Perusahaan / Asuransi terkait. Bila pasien masuk diluar jam kerja, jaminan diambil keesokan harinya, pada saat jam kerja.
5.3.     Meminta lembar jaminan, photo copy kartu asuransi, dan surat rujukan dari  Puskesmas (kecuali kasus emergency) sebagai pelengkap tagihan.
5.4.   Meminta pasien melengkapi persyaratan lainnya yang berhubungan dengan tagihan asuransi yang dimiliki.
5.5.     Bila syarat adiminstrasi belum lengkap, keluarga / penanggung-jawab pasien diberi waktu maksimal 2x24 jam untuk memenuhi persyaratannya (selama pasien rawat inap). Jika tidak dipenuhi, pasien dianggap UMUM.
5.6.   Tentukan dan beritahu keluarga / penanggung-jawab pasien tentang kamar yang akan ditempati oleh pasien sesuai dengan jatah yang telah ditentukan asuransi yang terkait, dengan mengelompokan Dewasa ( Pria / Wanita ) dan atau Anak.
5.7.  Bila pasien meminta untuk naik kelas perawatan (kecuali JAMKESMAS dan JAMKESDA), berikan “Surat Pernyataan Kesediaan Pembayaran Selisih Biaya” untuk  diisi dan ditandatangani oleh pasien/keluarga pasien.
5.8.    Receptionist meminta jaminan rawat inap kepada keluarga / penanggungjawab pasien (khusus kepada pasien yang minta naik kelas perawatan) berupa KTP/SIM atau tanda pengenal lainnya
5.9.     Setelah form “Surat Pernyataan kesediaan Pembayaran Selisih Biaya“ diisi dan ditanda tangani oleh keluarga / penanggungjawab pasien (khusus pasien yang minta naik kelas perawatan), berikan form tersebut ke bagian Rekam Medis.

G. Prinsip-prinsip Prosedur Rawat Inap
1.  Seluruh berkas administrasi rawat inap yang telah rampung diberikan ke bagian rekam medik untuk dicarikan berkas Status Pasien Rawat Inap sesuai dengan Nomor Rekam Medik  dan selanjutnya Status Pasien Rawat Inap diantarkan oleh petugas Rekam Medis ke IGD/POLI yang dituju.
2.  Petugas Rekam Medik mencatat di buku kunjungan pasien dan memberi tanda Rawat Inap.
3.  Receptionist menginformasikan ke bagian rawat inap mengenai kamar yang akan dipergunakan pasien guna mempersiapkan segala kelengkapan dan fasilitasnya.
4.    Perawat mempersiapkan ruangan pasien baru.
5.  Setelah ruang rawat inap siap, perawat memberitahu receptionist bahwa ruangan telah siap untuk ditempati.
6.   Receptionist memberitahu perawat POLI/IGD ruangan yang telah dipersiapkan.
7.   Perawat POLI/IGD mengantar pasien ke ruangan rawat inap

Daftar Pustaka

Undang - undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
Sabarguna, Boy S.2008.Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit.Sagung Seto : Jakarta.


Kamis, 20 April 2017

PROSEDUR PELAYANAN RAWAT JALAN YANG BAIK



1. Pengertian Pelayanan Rawat Jalan

Pelayanan rawat jalan (ambulatory) adalah satu bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan untuk pasien tidak dalam bentuk rawat inap (hospitalization)

2. Tujuan Pelayanan Rawat Jalan


Tujuan dari pelayanan rawat jalan adalah mengupayakan kesembuhan dan pemulihan pasien secara optimal melalui prosedur dan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan (Standart pelayanan Rumah sakit, Dirjen Yanmed Depkes RI thn 1999).

3. Standar Pelayanan Rawat Jalan

Menurut Keputusan Menteri kesehatan Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, standar minimal rawat jalan adalah sebagai berikut:

a. Dokter yang melayani pada Poliklinik Spesialis harus 100 % dokter spesialis.

b. Rumah sakit setidaknya harus menyediakan pelayanan klinik anak, klinik penyakit dalam, klinik kebidanan, dan klinik bedah.

c. Jam buka pelayanan adalah pukul 08.00 – 13.00 setiap hari kerja, kecuali hari Jumat pukul 08.00 – 11.00.

d. Waktu tunggu untuk rawat jalan tidak lebih dari 60 menit.

e. Kepuasan pelanggan lebih dari 90 %.

4. Jenis Pelayanan Rawat Jalan
Jenis pelayanan rawat jalan di rumah sakit secara umum dapat dibedakan atas 4 macam yaitu :

1. Pelayanan gawat darurat (emergency services) yakni untuk menangani pasien yang butuh pertolongan segera dan mendadak.
2. Pelayanan rawat jalan paripurna (comprehensive hospital outpatient services) yakni yang memberikan pelayanan kesehatan paripurna sesuai dengan kebutuhan pasien.
3. Pelayanan rujukan (referral services) yakni hanya melayani pasien-pasien rujukan oleh sarana kesehatan lain. Biasanya untuk diagnosis atau terapi, sedangkan perawatan selanjutnya tetap ditangani oleh sarana kesehatan yang merujuk.
4. Pelayanan bedah jalan (ambulatory surgery services) yakni memberikan pelayanan bedah yang dipulangkan pada hari yang sama. 

5. Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Pelayanan di unit rawat jalan secara garis besar meliputi 2 aspek yaitu pelayanan Medis dan Pelayanan administrasi. Kedua aspek pelayanan tersebut memiliki tugas dan proses yang berbeda-beda sebagai berikut :
1. Registrasi atau pendaftaran
Bertugas dalam menerima pendaftaran pasien, menyediakan aplikasi pendaftaran pasien, membantu proses registrasi atau pengisisan data pasien, menyediakan informasi jadwal praktek dokter rawat jalan, jadwal praktek harian dan memberikan kartu berobat pasien,
2. Bagian Pemeriksaan
Merupakan aspek fungsional medis utama yang terdiri dari Dokter, Perawat dan tenaga medis lainnya, bertugas memberikan layanan terkait pemeriksaan, diagnose penyakit dan tindakan kesehatan kepada pasien, serta mengisi catatan rekam medis pasien sebgai dokumentasi.
3. Bagian Rekam Medis
Bertugas dalam mengatur dan menyiapkan data-data atau dokumentasi terkait semua hasil pemeriksaan, diagnosa dan tindakan kesehatan yang dilakukan kepada pasien dan telah dicatat oleh petugas Medis pada lembaran rekam medis.
4. Bagian Farmasi dan Apotik
Bertugas dalam memfasilitasi kebutuhan terhadap terapi obat yang diresepkan kepada pasien, kebutuhan alat atau produk terkait layanan kesehatan yang dibutuhkan pasien
5. Bagian kasir
Bertugas dalam memberikan informasi jumlah tagihan yang harus dibayarkan oleh paien, proses klaim jaminan atau asuransi pasien, informasi tarif pelayanan yang disediakn rs, dan membuat laporan kas terkait kegiatan pelayanan harian rumah sakit.


Daftar Pustaka


1. Dirjen Yanmed Depkes RI.1999.Standart Pelayanan Rumah Sakit.Jakarta
2. Keputusan Menteri kesehatan Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
3. UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit



Rabu, 05 April 2017

PELAYANAN GAWAT DARURAT YANG BAIK


Rumah sakit merupakan Institusi Pelayanan Kesehatan yang melaksanakan Pelayanan Kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan Rawat Inap, rawat jalan, dan Gawat Darurat ( UU RI, 2009).

Salah satu bagian di Rumah Sakit yang memberikan pelayanan adalah Instalasi Gawat Darurat, yang merupakan gerbang utama jalan masuknya penderita Gawat Darurat. IGD adalah suatu instalasi bagian Rumah Sakit yang melakukan tindakan berdasarkan triase terhadap pasien (Musliha, 2010).
Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut (Menteri Kesehatan RI, 2009).
Sehingga tujuan pelayanan Gawat Darurat adalah untuk mencapai Pelayanan Kesehatan yang optimal pada pasien dengan cepat, tepat, ramah dalam penanganan tingkat kegawatdaruratan sehingga mampu mencegah resiko kecacatan dan kematian.

Pasien yang masuk ke IGD RS tentunya butuh pertolongan yang cepat dan tepat untuk itu perlu adanya standar dalam memberikan pelayanan Gawat Darurat sesuai kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan Gawat Darurat dengan response time yang cepat dan penanganan yang tepat. 
Semua itu dapat dicapai dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumber daya manusia dan manajemen Instalasi Gawat Darurat RS sesuai standar.

Pelayanan Gawat Darurat mempunyai standar dan indikator sebagai berikut :
1. Kemampuan menangani life saving  anak dan dewasa : 100 %
2. Jam buka pelayanan gawat darurat 24 jam
3. Pemberi pelayanan gawat darurat yang bersertifikat yang masih berlaku BLS/PPGD/GELS/ALS :       100 %
4. Ketersediaan tim penanggulangan bencana : 1 tim
5. Waktu tanggap pelayanan Dokter di Gawat Darurat  adalah kurang dari lima menit setelah pasien       datang
6. Kepuasan pelanggan lebih dari 70 %
7. Kematian pasien  kurang dari 24 jam adalah kurang dari dua perseribu ( pindah ke pelayanan               Rawat  Inap setelah 8 jam )
8. Tidak adanya pasien yang diharuskan membayar uang muka : 100 %
9. Khusus untuk RS Jiwa pasien dapat ditenangkan dalam waktu kurang dari 48 jam


Daftar Pustaka :
1.  UU Republik Indonesia Nomor 44, 2009. ( 2009 ).Rumah Sakit.Jakarta
2.  Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Standar Instalasi Gawat Darurat              (IGD) Rumah Sakit. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
3.  Musliha. (2010). Keperawatan Gawat Darurat. Nuha Medika : Yogyakarta.
4.  Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129, 2008. (2008). Standar Pelayanan Minimal            Rumah Sakit. Jakarta.